Laman

Rabu, 27 April 2011

Harpa Sang Mentari

Sosokku…
Berdiri jauh merentas arak-arakan awan
Menyusup dalam singgasana tak berbayang
Memuja Hyang Esa, memuji gema malam
Ketika bertanya sosok itu,
“Dimana wangi bumimu, mengapa hanya angkasa,
Kau kutib dalam naskah sejarahmu?”
Aku diam hanya memandang
Tanpa kata, hanya menerawang
Ku tatap erat seruan-seruan tirta diri
Entah mengapa selalu mengutus mencapai surya Illahi
Diriku hanya sanggup menjalani
Tak berani ubah skenario Gusti
Do-do-Re-re-Mi-mi-DoReMi
Dering-dering nada kehidupan menuju falsetto
Kian lama kian mendemo
Menggedor-gedor gerbang jiwa di Astana Apollo
Kemudian bertahan selamanya untuk kesetiaan
Selamanya…
Sampai siluet memanggil kelam
Tuk kenakan jubah malam keperakan….

Dari suasana hati Sb.Rahma
Purwosari, 23 Oktober 2010

Nama Yang Hilang

Mendadak pudar
Raib didera gundah malam
Entah siapa jadi empunya
Munguak jam panjangku dijuwita kelabu
Ada satu yang tersisa
Hanya satu
Begitu saja mengusik hariku
Dengan bayangnya yang bersemu kemerahan
Akankah lama ia bersamaku disini?
Hanya DIA yang tahu
Cukup DIA jadi pengatur dentang kehidupan
Cinta salah satunya
Dalam setiap sedu sedanku
Nama itu menucul
Mengusir semua itu dengan denyut nadinya
Hingga hilang punah nama pertama
Karena tangis selalu dicipta olehnya
Hingga nama itu menghapus tangisku
Selalu, selamanya…
Begitu bunyi deringan panjatku pada DIA…




Dari suasana hati Sb. Rahma
Dalam kesunyian semu bulan Maret
Ma. Darut Taqwa, 21 Maret 2011

Salahkah?

Bintang itu tersipu dipingan awan yang menguak satu-satu
Menyemai pilu, berbaris penuh rindu
Terpeluk sunyi yang lama-kelamaan merapuh
Oh Salahkah?
Bila bara itu mengaum dihitamnya keanggunan
Yang lama tertidur dalam pesona Maha Diam
Salahkah?
Karena bintang tetaplah bintang
Piranti miliunan angkasa petang
Dating tanpa undangan dan permintaan
Bukan kehendak siapa saja
Namun salahkah?
Bila tercipta jutaan Tanya di nebula
Menyeringgai di batas horizon seperti tawa
Pinta jawaban dari seonggok rasa tanpa suara
Jadi salahkah?
Jika rasa itu mencuat begitu saja dalam sergapan Andromeda
Kemudian berkembang sepat menggeliat hebat
Apa salah?


Dari Suasana Hati Sb. Rahma
Purwosari, 15 Maret 2011

Selasa, 26 April 2011

Balada Pencari Cinta

Kesiur angin menjelma jadi kelabu
menyisakan sajak-sajak panjang dalam kekelaman
Entah mengapa saat itu hatiku jadi membiru
Hingga kaku bak bongkahan salju kutub utara
Karena dia hanya membungkam…
Entah mengapa, mungkin ada pengganjal
Dalam jiwa yang rapuh penuh pengekang
Sanggupkah sosok itu bertahan ??
Lantaran ia hanya memerlukan penopang
Dalam hidupnya, untuk cintanya…


Dari Perasaan Sb. Rahma tentang Dzie
Purwosari 18 Maret 2011

Balada Pencari Cinta

Kesiur angin menjelma jadi kelabu
menyisakan sajak-sajak panjang dalam kekelaman
Entah mengapa saat itu hatiku jadi membiru
Hingga kaku bak bongkahan salju kutub utara
Karena dia hanya membungkam…
Entah mengapa, mungkin ada pengganjal
Dalam jiwa yang rapuh penuh pengekang
Sanggupkah sosok itu bertahan ??
Lantaran ia hanya memerlukan penopang
Dalam hidupnya, untuk cintanya…


Dari Perasaan Sb. Rahma tentang Dzie
Purwosari 18 Maret 2011

Tasbih Di Penghujung Siang

Sakura mendadak jatuh dalam dekapan Shiwa
Kadang menjelma layaknya Gayatri muda
Mencengkeram sekelumit lara hati sang dara
Kau itu…
Kau kejam sekali!
Menusukku dengan pedang asmaramu
Menyayat-nyayat kalbuku semau perutmu!
Jadikan luka baru bernama ‘Rindu’
Kapan kau mengobatinya? Kapan?!
Siang malam buliran dzikir kurapalkan
Mengaharap tuhan mau mendengarkan
Tentang gelisah dalam relung terdalam
Kemana Kau?!
Kenapa diam saja tak mau menjawab?
Apakah dusta itu akan terus kau lanjutkan?
Menafikkan perasaan yang berkobar didadamu
Demi kehormatan dan nama besarmu
Aku tahu tetes cinta itu juga mengusik mimpi malammu
Tapi kau tak mau menyapanya
Nanti kau akan tahu
Saat aku terlalu jauh dari gapaian tanganmu
Dan kau kan rapalkan pula dzikir pada tuhanmu
Dengan tangis penuh harap
Agar tuhan mendengarkan pintamu


Dari suasana hati biru Sb.Rahma
Purwosari, 19 Maret 2011

Abstrak

Denyut seirama denyut
Hanya kata pada gores tinta terlarut
Polesan yang tersandung dawai-dawai
Entah selintas apa dalam risalah hati
Mungkin cinta mungkin benci
Terbaca kala mata jujur mengakui
Jantung bukan lagi jantung berdebar
Eksotik, bukti hati tengah terbakar
Mungkin benci enggan singgahi hati
Biarkan cinta meraja di persada
Namun luka itu masih merah, berdarah
Ada ketakutan, trauma jadi paranoid
Tak ingin lagi teteskan air mata sebab cinta
Hanya kali ini berbeda…
Yang sajak dihantar do’a-do’a
Jawab-menjawab sekali tuk kembali
Kadang membuncah serupa kilat gemerlap
Kadang utuh, yakin, selaksa rantai-rantai Berlin
Hingga semua tuk jadi semu belaka
Karena suci selamanya kan abadi
Menekuri bayang diri di jendela nurani…


Dari Suasana hati Sb. Rahma
Purwosari, 12 Agustus 2010